Minggu, 25 Januari 2009

My 4Rt!k3l


Remaja di Era Globalisasi

REMAJA…

Remaja adalah masa perantara dari masa anak – anak menuju masa dewasa. Dimasa ini seseorang lebih senang berkumpul dengan temannya ketimbang bersama keluarga. Disaat seseorang menginjak masa remaja, ia mulai mengalami ketertarikan pada lawan jenis. Mereka juga mulai menginginkan kebebesan yang mutlak dalam bergaul. Masa remaja adalah masa yang sangat rawan. Hal ini karena remaja lebih banyak menghabiskan waktunya dengan temannya. Bila ia salah memilih seorang teman, maka sudah barang tentu ia akan terjerumus kedalam jurang kesesatan. Dan ini berakibat masa depannya akan hancur berantakan.

Di era globalisasi yang tengah di alami negara – negara di seluruh dunia, ada dampak negatif khususnya bagi dunia remaja. Remaja di era globalisasi begitu berubah drastis dengan remaja pada zaman dahulu. Sangatlah memprihatinkan. Mereka menganut kebebesan mutlak tanpa batas yang tidak dibarengi dengan pertanggung jawaban. Gaya hidup ala barat menjadi tren dikalangan mereka saat ini.

Mereka lebih banyak berada di luar rumah ketimbang di rumah bersama keluarga. Di era globalisasi sekarang ini, remaja sudah tidak menganggap adanya norma – norma, baik norma di masyarakat, kesusilaan bahkan norma agama. Gaya hidup hura- hura, pakaian ala barat “ you can see “, pergaulan yang begitu bebas, pergi ke clubbing, penyalahgunaan obat – obat terlarang hingga terjadinya free sex bahkan banyaknya remaja yang bunuh diri karena tak tahan lagi dengan permasalahan yang begitu membuncak, kini begitu marak di kalangan remaja.

Ini semua adalah dampak dari adanya era globalisasi. Namun, bukan hanya karena era globalisasi saja, akan tetapi karena kurangnya perhatian orang tua dalam pergaulan anaknya yang telah menginjak masa remaja. Orang tua seharusnya memperhatikan pergaulan anaknya. Dengan siapa anaknya bergaul.

Di zaman sekarang ini, pergaulan yang begitu bebas sudah menjadi tren di kalangan mereka. Remaja yang notabennya adalah masih seorang pelajar ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk hura – hura daripada belajar. Padahal remaja adalah penerus bangsa ini. Di tangan mereka nasib bangsa ini. Akan lebih baik lagi ataukah terpuruk. Lalu apa jadinya bangsa dan negara ini di tangan remaja modern sekarang yang telah terkena dampak negatif globalisasi??

Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa norma – norma sudah tak berarti lagi bagi mereka. Remaja khususnya para wanita sudah tidak canggung lagi memakai pakaian ala barat “ you can see “ di depan umum. Bagi mereka itu adalah hal yang wajar – wajar saja. Pakaian yang semestinya di gunakan hanya di dalam rumah bahkan kamar, kini malah di pakai di depan orang banyak.

Pacaran menjadi sesuatu yang amat sangat populer. Gaya pacaran remaja zaman sekarangpun begitu mengumbar kebebesan. Mereka tak canggung lagi melakukan adegan bermesraan, seperti layaknya suami istri bahkan ciuman di depan umum. Yang lebih parah lagi, banyak dikalangna mereka yang mempergunakan obat – obatan terlarang. Atau pacaran yang sudah melampaui batas, yakni dengan alasan saling cinta mereka merusak masa depannya sendiri dengan melakukan cek in di hotel dan tak terindahkan lagi terjadinya free sex.

Tak heran jika sekarang ini kita sering melihat remaja – remaja hamil di luar nikah atau bahkan seorang bayi suci yang lahir tak berdosa tanpa seorang ayah.

Banyak juga remaja – remaja yang rela mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri. Remaja yang telah melakukan free sex dan ternyata hamil, mereka rela mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri karena malu akan aib yang di menimpanya.

Cerpenz Maniezz Que

KUKORBANKAN CINTAKU

DEMI PERSAHABATAN


Hati Nafzee hancur saat dia mendengar Syakhel mengatakan bahwa dirinya mencintai Shylza, sahabatnya.

Telah lama Nafzee memendam cintanya untuk Syakhel. Ia selalu mengorbankan perasaannya hanya untuk membahagiakan sahabatnya. Dulu Zee, panggilan akrab Nafzee Al Maghfira Nadzifa mengorbankan cintanya untuk sahabatnya yang bernama Syadiene.

Zee mengenal Syakhel sejak ia masih kecil. Dan kedua orang tua Syakhel adalah sahabat kedua orang tua Zee. Cinta itu mulai tumbuh saat keduanya duduk di bangku kelas VI SD. Sampai keduanya SMP, Zee masih mencintai Syakhel. Namun sayang, Zee harus mengorbankan cintanya untuk sahabatnya, Syadiene. Syadiene mencintai Syakhel, begitu juga sebaliknya, saat keduanya duduk di kelas VIII. Saat itu Zee tidak ingin melihat sahabatnya bersedih. Syadiene difonis dokter umurnya tidak lama lagi, hanya tinggal lima bulan saat itu.

Syakhel tahu kalau Syadiene umurnya tidak lama lagi. Namun ia berusaha memberi semangat padanya agar Syadiene bisa hidup lebih lama lagi. Baik Syakhel maupun Syadiene tidak ada yang tahu kalau Zee mencintai Syakhel.

Disatu sisi Zee bahagia dapat melihat Syadiene dapat tersenyum bahagia diakhir hidupnya. Namun, disisi lain hati Zee menangis melihat seorang yang dicintainya bersama orang lain. Namun, ini semua demi sahabatnya.

Saat itu datang, tepatnya saat Syadiene kelas IX Sang Khalik memanggil Syadiene. Raut kesedihan terlihat jelas diwajah Syakhel. Zee mencoba menenangkan hati Syakhel, “El, percayalah ini adalah yang terbaik untuk Syadiene. Semua ini lebih baik daripada ia harus menaggung derita yang berkepanjangan. Syadiene itu milik Allah dan pasti akan kembali pada-Nya.”

“Terima kasih yach Zee, kamu emang sahabatku yang baik!”


* * *


Bulan demi bulan berlalu, Syakhel belum juga dapat melupakan Syadiene. Ia juga belum bisa mencintai orang lain selain Syadiene.

Dua tahun kemudian….

Kini Zee dan Syakhel menjadi seorang pelajar SMU kelas II. Sedikit demi sedikit Syakhel mencoba merelakan kepergian Syadiene dan mencoba mencintai orang lain.

Suatu hari Zee mengenalkan kepada Syakhel sahabatnya dulu sewaktu Zee tinggal di Surabaya, namanya Shylza.

Semangat hidup Syakhel kembali muncul saat ia bertemu dengan Shylza. Baginya Shylza adalah pengganti Syadiene. Sejak pertemuan itu Syakhel menganggap Syadiene kembali hadir di dunia ini dalam diri Shylza. Dan untuk yang kedua kalinya Zee harus mengorbankan cintanya. Karena ternyata Syakhel mencintai Shylza.

Syakhel sempat meminta Zee untuk membantunya agar dirinya bisa mendapatkan cinta Shylza. Meski dengan perasaan hati yang sakit dan terluka, Zee coba menguatkan dirinya untuk membantu Syakhel. Dalam dirinya, Zee bertekad “Biarlah hatiku terluka, tetapi aku dapat melihat orang yang aku cintai bisa tersenyum bahagia”.

Dengan bantuan Zee, akhirnya Syakhel dan Shylza menjadi sepasang kekasih.

Hancur lagi hati Zee untuk yang kedua kalinya.


* * *


Suatu hari Zee sakit. Kemudian ia pergi ke rumah sakit untuk mengobati sakitnya. Betapa terkejutnya Zee saat dia tahu bahwa sakit yang ia derita adalah Leukimia dan Kanker Otak.

Kepedihan Zee bertambah. Begitu banyak derita yang telah lama ia alami selama ini. Perceraian kedua orang tuanya menjadikan Zee kehilangan kasih sayang keduanya. Musibah datang kembali dalam kehidupan Zee, ia kehilangan bundanya untuk selamanya. Bukannya ayah Zee bertambah menyayangi Zee, malahan setelah musibah itu, ayah Zee menikah lagi dan menetap di London tanpa menanyakan kabar anak tunggalnya, Zee.

Tak hanya kesedihan dalam hidupnya akan tetapi juga dalam masalah percintaan, ia harus mengorbankan cinta dan rela sakit dan terluka hatinya hanya demi melihat seorang yang ia sayangi dan cintai bahagia.

Kini Zee tak mempunyai semangat hidup lagi. Ia pasrah jika sewaktu-waktu Allah memanggilnya.

Saat-saat terakhir kematiannya, Zee berpesan kepada Tante Luna, adik dari bundanya agar apabila ia meninggal nanti, ginjalnya disumbangkan untuk Shylza, kornea matanya yang satu untuk Chika, adik Syakhel dan satunya lagi untuk Azriel, sahabatnya.

Selain itu, Zee berpesan untuk tidak menyampaikan kabar duka pada sahabat-sahabatnya yang ada di Jakarta. Dan merahasiakan namanya sebagai pendonor ginjal dan kornea.

Setelah kematiannya, pesan Zee Tante Luna lakukan. Sebelum Zee sakit ia telah berpindah ke Bandung di rumah tantenya. Sedangkan Syakhel, Shylza, Azriel, dan Chika ada di Jakarta.


* * *


Setahun kemudian Syakhel dan Shylza mencari keberadaan Zee. Setelah lama mencari informasi tentang keberadaan Zee, akhirnya mereka menemukan alamat rumah Tante Luna di Bandung dari bekas pembantunya.

Sesampainya disana betapa terkejutnya mereka saat mendengarkan cerita dari Tante Luna, bahwa Zee telah tiada. Tak hanya itu, mereka lebih kaget saat mengetahui donor ginjal dan kornea adalah dari Zee.

Shylza menyesal sempat marah pada Zee karena Shylza cemburu melihat Zee sepertinya ingin mencari perhatian dari Syakhel. Ternyata Zee adalah sahabat yang sangat bijaksana, ia rela mengorbankan perasaan cintanya demi sahabatnya. Syakhelpun akhirnya tahu kalau selama ini Zee mencintainya.


* SEKIAN *